PKS DKI soal Rencana Tunjangan Naik: Bukan untuk Anggota tapi Sapa Warga

by Humas PKS Jakarta

Jakarta – Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Mohammad Arifin menegaskan rencana kenaikan tunjangan Rp 8 miliar DPRD untuk kegiatan sosialisasi ke masyarakat. Arifin menyebut kenaikan itu bukan untuk tunjangan pribadi anggota Dewan.

“Ada usulan penambahan kegiatan anggota DPRD untuk turun menyapa masyarakat agar anggaran DPRD lebih dekat dengan konstituennnya dan dapat menyerap dengan baik aspirasi masyarakat yang akan diperjuangkan di DPRD. Jadi bukan kenaikan tunjangan anggota DPRD,” kata Arifin kepada wartawan, Jumat (4/12/2020).

Namun, terkait besar anggarannya, Arifin mengaku tidak mengetahui pasti. Namun dia menyebut anggaran yang diusulkan tidak sampai Rp 8 miliar.

“Itu tidak benar angkanya seperti itu. Apalagi itu bukan kewenangan DPRD, menaikkan tunjangan. Sebab, itu harus diatur dalam pergub setelah disetujui Kemendagri dan Kementerian Keuangan,” ujarnya.

“Itu sangat berlebihan, tidak mungkin anggarannya sebesar itu,” lanjut Arifin.

Diketahui, rencana kenaikan tunjangan itu masih dalam bentuk draf yang belum disahkan. DPRD DKI Jakarta saat ini tengah mengajukan anggaran untuk tunjangan perumahan dan tunjangan transportasi.

“Draf, jadi memformat kira-kira kalau kalau dari kisi-kisi. Jadi pendapatan itu ada tunjangan reses, setelah reses kan laporan selesai dapat tunjangan reses tuh, sesuai dengan sosper (kegiatan yang dianggarkan), sosper kan nggak dapat, sosper minta dapat, tunjangan transpor. Itulah yang dikalkulasi, makanya ada pendapatan yang tidak langsung, itu maksudnya benefit yang didapatkan,” kata Ketua Komisi A DPRD DKI Mujiyono, Jumat (27/11).

“Kan bedanya sosper, yang naik itu rencana akan diminta naik tunjangan perumahan sama tunjangan transpor udah, dan itu nggak gede. Tunjangan transpor naik jadi Rp 12 (juta), tunjangan perumahan naiknya Rp 13 (juta) apa berapa ya, pokoknya naiknya Rp 40 (juta),” katanya.

Menurutnya, semua rencana tersebut belum tentu langsung disetujui. Nantinya, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akan terlebih dahulu mengkajinya.

“Dokumen yang sifatnya adalah keinginan, forkes, proposal, bukan menjadi lalu diterjemahkan benar-benar dan ini disepakati. Kalau posisinya forkes masih mentah, RAPDB belum selesai, evaluasi DDN (Direktorat Jenderal Otonomi Daerah), kan ada evaluasi DDN nanti, begitu lihat Depdagri lihat ini nggak layak, ditolak sama dia,” ucapnya.

Menurutnya, anggaran Rp 888.861.846.000 sulit terealisasi. Sebab, pagu anggaran untuk DPRD DKI Jakarta sebesar Rp 580 miliar.

Kaliin saja 106 (anggota DPRD DKI) berapa itu. Nah, pagunya Rp 580 miliar,” katanya.

 

Sumber: detikcom

Related Posts