Pemulihan Industri Pariwisata, Ismail: Fokus Pada Jenis Usaha Yang Jadi Backbone Industri Pariwisata

0
2

Jakarta – Anggota Komisi B dari FPKS, Ismail memberikan apresiasi atas sejumlah protokol kesehatan yang sudah disiapkan dalam pemulihan industri pariwisata. Ia juga mengingatkan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta agar fokus pada jenis usaha yang selama ini menjadi backbone di industri pariwisata, yaitu usaha restoran.

Ismail melanjutkan, berdasarkan data diketahui usaha restoran merupakan kontributor pajak tertinggi di industri pariwisata. Dari target APBD 2020 sebesar 4,25 triliun rupiah, telah tercapai 2,057 triliun rupiah per-Mei 2020. Dari segi tenaga kerja, jenis usaha ini merupakan yang terbanyak menyerap tenaga kerja, yaitu 103.593 orang. Sedangkan dari segi dampak ekonomi, jenis usaha ini merupakan yang paling kecil terdampak Covid-19, yaitu kisaran 40%-70%. Dan hal yang paling mendasar adalah karena jenis usaha ini terkait langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat.

“Saya mendorong perlu segera dirumuskan strategi dan program-program konkrit untuk pemulihan jenis usaha restoran ini,” kata Ismail, Selasa (23/6/2020).

Ismail juga mengingatkan, jenis industri pariwisata yang juga perlu diperhatikan adalah usaha perhotelan, karena merupakan kontributor pajak terbesar kedua di industri pariwisata. Dari target APBD 2020 sebesar Rp 1,95 triliun, telah terealisasi per-Mei 2020 sebesar Rp 466 miliar.

Di antara program yang perlu dipertimbangkan untuk dipulihkan kembali adalah program-program kategori MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Termasuk kegiatan wedding yang diselenggarakan di hotel-hotel dengan batasan dan protokoler yang ketat.

“Hal ini mengingat banyak jenis usaha turunan dari program MICE ini yang melibatkan banyak tenaga kerja dan tentunya berpotensi mendongkrak kembali perekonomian Jakarta khususnya dari segi industri pariwisata,” pungkas Ismail.

Diketahui, memasuki masa PSBB transisi, Komisi B DPRD DKI Jakarta secara intensif melakukan rapat kerja dengan SKPD dan BUMD yang menjadi mitra kerjanya. Pada kesempatan Selasa (23/6/2020) giliran Disparekraf DKI Jakarta mendapat kesempatan memaparkan persiapannya memasuki masa PSBB transisi. Industri pariwisata mendapatkan perhatian khusus Komisi B karena berdasarkan kontribusi sebelumnya terhadap penerimaan APBD cukup signifikan, namun menjadi terpuruk akibat efek pandemi Covid-19. Kepala Disparekraf, Cucu Ahmad Kurnia, menyampaikan sejumlah protokol kesehatan yang sudah disiapkan oleh jajarannya dalam upaya pemulihan kembali industri pariwisata.