Kunjungan Pengawasan MRT, Ismail: Wujudkan Transformasi Sosial Melalui Penerapan Protokol Kesehatan

0
28

Jakarta – Komisi B DPRD DKI melakukan kunjungan kerja ke Mass Rapid Transportation (MRT) Jakarta. Kunjungan diawali dari kantor pusat MRT dan berlanjut ke stasiun dan gerbong MRT untuk memastikan penerapan protokol kesehatan. Kunjungan pengawasan berakhir di depo MRT di Lebak Bulus yang merupakan titik perawatan sekaligus pengendalian seluruh armada MRT.

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi B dari Fraksi PKS Ismail mengingatkan pihak PT MRT agar juga memperhatikan aspek transformasi sosial terhadap para pengguna MRT, khususnya dalam bentuk membangun kebiasaan baru yang lebih baik lagi seperti budaya antri, tertib, bersih, dan sopan di kendaraan umum.

“Selain fokus pada upaya pelayanan tepat waktu, MRT juga harus berpartisipasi membentuk budaya masyarakat yang lebih baik lagi melalui tata tertib yang diterapkan terhadap para pengguna jasanya. Hal ini yang kurang terlihat di jasa transportasi massal lainnya,” jelas Ismail, Rabu (1/7/2020).

Selain itu, Ismail juga mengingatkan pihak MRT, agar merumuskan strategi optimalisasi pendapatan non tiket. Sehingga biaya operasional maupun target pendapatan tidak bertumpu pada hasil penjualan tiket yang notabene akan membebani masyarakat pengguna jasa MRT. Dirinya juga mengetahui efek dari pandemi Covid-19, jumlah pengguna MRT menurun tajam dari 100 ribu penumpang perhari, kini mulai beranjak lagi di posisi 20 ribu penumpang.

Berdasarkan progress yang telah berjalan hingga saat ini, Ismail menilai MRT berpeluang untuk leading di sektor transportasi massal lingkar dalam Jakarta. Ada beberapa faktor yang mendukung ke arah tersebut, diantaranya adalah tingkat ketepatan waktu 100%, kenyamanan layanan, capaian 100ribu penumpang perhari di fase 1 rute Lebak bulus – HI, pada kondisi normal sebelum PSBB, serta adanya rencana pembangunan fase 2 yaitu rute HI – Ancol Barat dan fase 3 yang menghubungkan wilayah timur – barat Jakarta.

“Oleh karena itu perlu dipastikan seluruh rencana pengembangan tersebut masuk ke dalam Rencana Induk Transportasi Jakarta, sehingga bisa diintegrasikan dengan rencana pengembangan moda transportasi massal lainnya,” tambah Ismail.

Perlu juga dipertimbangkan untuk mengoptimalkan penggunaan ruang bawah tanah dalam rencana pengembangan jalur MRT, tentunya dengan memperhitungkan faktor geografis mengingat sebagian wilayah Jakarta masih rawan banjir.