KUMANDANG CINTA

Oleh : M Rubiul Yatim
(Ketua Lajnah Dirosat wal Buhuts DSW PKS DKI Jakarta)

Setiap hari kumandang cinta itu terdengar di telinga manusia. Suaranya lantang bergaung di lima waktu, saat kebanyakan manusia sedang terlena dalam dekapan dan deru dunia yang fatamorgana.

Kumandangnya mengingatkan kita akan hakikat kehidupan yang sesungguhnya yaitu beribadah dan menjadi khalifah; wakil Allah Azza wa Jalla, di muka bumi. Itu akan terus terjadi selama ruh dan jiwa manusia masih bersemayam di dalam tubuh yang fana.

Kumandang cinta ini sungguhlah sangat merdu dan syahdu dibanding lagu dan kidung manapun. Itu lantaran kandungannya datang dari sang pemilik alam semesta yang Maha Agung.

Pesan dan getaran makna yang ada di dalamnya mengantarkan diri untuk merenung. Menghentakkan jiwa membawa ruh suci untuk segera mikraj berkholwat di sisi Zat yang Maha Esa dan Abadi.

Seorang ulama yang telah gugur syahid pada bulan Februari 1949 di Mesir, yang bernama Imam Hasan Al Banna rohimahulloh menyampaikan wasiatnya yang indah kepada umat Islam terkait kumandang cinta ini. Beliau berkata : “Dirikanlah sholat dengan segera manakala telah mendengar adzan, sepanjang tidak ada udzur bagimu.”

Nasehat yang tampaknya sederhana ini sesungguhnya memiliki muatan yang sangat dalam dan penuh dengan hakikat pemahaman. Muncul dari sanubari terdalam yang menyadari betul arti sejatinya azan bagi manusia. Terlebih di saat berbagai fitnah kehidupan dan rongrongan keimanan begitu kuat menyergap pada segala lini kehidupan.

Bukti keimanan dan ketakwaan seseorang tergambarkan secara nyata dan gamblang pada respon dirinya terhadap suara azan. Oleh karena itu adalah panggilan penguasa alam yang meminta tanpa memaksa akan hak-Nya untuk disembah dan dipuja.

Lemah dan lambatnya respon seorang hamba terhadap panggilan azan sesungguhnya merefleksikan realita lemahnya iman dan takwa di dalam dada. Apatah lagi sampai mencemooh dan melecehkan azan sedemikian rupa, entah bagaimanalah rupa iman di dalam dadanya.

Apabila tidak ada udzur syar’i (alasan penghalang yang dibenarkan oleh syariat) maka memenuhi kumandang cinta hukumnya adalah mutlak wajib adanya. Oleh karena Sang Pemilik diri sudah memanggil untuk datang dan kembali keharibaanNya. Panggilan siapakah lagi yang lebih tinggi daripada panggilan Allah Azza wa Jalla.

Sungguh Nabi Muhammad saw telah mengingatkan dalam sabdanya:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Artinya: “Barangsiapa yang mendengar adzan lalu tidak datang, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, kitab Al Masajid wal Jama’ah, Bab At Taghlidz Fi At Takhalluf ‘Anil Jama’ah, no. 785).

Bahkan seorang yang matanya buta sekalipun oleh Nabi Muhammad saw tetap diwajibkan untuk memenuhi kumandang cinta. Selama telinganya mendengar adzan maka matanya yang buta itu tidaklah membuatnya memiliki udzur syar’i.

Nabi muhammad saw telah bersabda:

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

Artinya: “Seorang buta mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai seorang yang dapat menuntunku ke masjid,” lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga dibolehkan shalat di rumah. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepadanya. Ketika ia meninggalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, langsung Rasulullah memanggilnya dan bertanya: “Apakah engkau mendengar panggilan adzan shalat?” Dia menjawab: “Ya.” Lalu Beliau berkata: “Penuhilah!” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Masajid wa Mawadhi’ Shalat, Bab Yajibu Ityanul Masjid ‘Ala Man Sami’a An Nida’ no. 1044).

Keharusan memenuhi kumandang cinta juga dapat diketahui pada ancaman bakar yang pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Bahkan ungkapan ancaman yang sangat keras ini diawali melalui sumpah dengan menyebut nama Allah Azza wa Jalla.

Nabi muhammad saw pernah bersabda:.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar. Lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat, dan aku tidak berjama’ah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama’ah), lalu aku bakar rumah-rumah mereka.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al Adzan, Bab Wujubu Shalatil Jama’ah, no. 608 dan Muslim dalam Shahihnya, kitab Al Masajid wa Mawadhi’ Sholat, Bab Fadhlu Shalatil Jama’ah wa Bayani At Tasydid Fit Takhalluf ‘Anha, no. 1041)

Oleh karena itu, siapapun manusia yang lalai dan menyengaja menganggap sepi panggilan azan maka akan berakibat buruk bagi masa depan hidupnya kelak di akhirat. Adapun sebaliknya, bagi yang sigap bersemangat menyambut seruan adzan maka keberkahan, ketenangan dan kebahagiaan hidup akan mudah diraih dalam kesehariannya.

Tanpa kumandang cinta hidup sepi sunyi bagai berada di pemakaman. Bersama kumandang cinta hidup mulia penuh pesona akan membaluti jiwa dan raga.

Al faqir.
Rabu, 04/04/18. 21.28 WIB
Pondok Labu.